Pulau Karampuang Nan Perawan di Mamuju

Nama Kabupaten Mamuju di Sulawesi Barat mungkin masih asing terdengar di telinga traveler. Akan tetapi, kabupaten ini punyai pulau perawan yang indah.
Pada bulan puasa lalu ialah kurang lebih tanggal 20-an Mei, saya punya kesempatan buat mendekati satu diantara Kabupaten yg berada di Sulawesi Barat, ialah Kabupaten Mamuju. Ketujuan Kabupaten Mamuju bisa ditempuh memakai pesawat terbang.

Bila memakai pesawat terbang, transit lebih dahulu buat ubah pesawat di Lapangan terbang Sultan Hasanuddin, Makasar. Perlu waktu sepanjang lebih kurang 40 menit buat datang di lapangan terbang Tampa Padang, Mamuju dari Lapangan terbang Sultan Hasanuddin, Makasar.

Cuma ada dua maskapai yang bisa layani penerbangan dari Makasar ke Mamuju, ialah Garuda Indonesia serta Wings Air. Tidaklah heran, maka itu Lapangan terbang Tampa Padang ini tidak demikian besar. Pilihan lain buat sampai di Mamuju, bisa memakai mobil dari Makasar serta kurang lebih ditempuh sepanjang 10 jam perjalanan (fyi, ini informasi Saya bisa pula dari driver sewaan sepanjang di Mamuju).

Sebetulnya ada apakah saja sich di Mamuju? Telah jauh-jauh hadir kan, tentu pada ingin tahu soalnya memang kan sampai kini belum terpasang sekali wisata yg berada di Mamuju. Kala datang di Mamuju saya lantas langsung ketujuan hotel, ialah D’Maleo Hotel and Convention Center.

Hotel di pusat kota Mamuju itu baru ada 2 guys, yg lebih lama ada ialah D’Maleo Hotel and Convention Center serta yg baru dibuka itu hotel yg ada di mal, Maleo Town Square atau dipersingkat Matos. Wilayah sekitaran Matos ini rupanya adalah pusat kotanya Mamuju.

Hanya karena ada 1 mal ialah Matos yg kelihatannya masih mal baru, serta ada Pantai Manakarra, ya mungkin kayka Pantai Losari nya Makasar. Bulan Ramadhan di Mamuju ini cukup ramai, sebab di sekitaran Matos serta Pantai Manakarra banyak berjualan es kelapa muda, es pisang ijo, serta pelbagai kudapan yang lain.

Buat es kelapa muda sendiri 1 batok kelapanya dihargai Rp 10.000 saja. Ya cukup kan tidak terlampau mahal, serta dapat disantap kala buka dengan ditemani sepoi-sepoi angin Pantai Manakarra. Diluar itu, di Mamuju ini sebagian besar beragama muslim.

Sebab yg saya cermati tempo hari ada dua masjid besar yg berada di kurang lebih tepian jalan Pantai Manakarra, satu diantara mesjid besarnya ada persis di muka D’Maleo Hotel and Convention Center. Tata Trik memberitakan buka puasa di sini unik d’travellers. Soalnya sinyal buka puasa disinyalir dengan sirine lebih dahulu, bukan dengan kumandang adzan.

Adzan bergema kurang lebih lebih kurang 10-15 menit sehabis sirine sinyal buka puasa keluarkan bunyi (mungkin khatibnya berbuka puasa dahulu kali ya). Sehabis menghimpun info dari pelbagai sumber, besok paginya saya bersama rekan-rekan berusaha untuk pergi ke satu diantara pulau, ialah Pulau Karampuang.

Buat ketujuan ke pulau ini, Kami naiki perahu dari belakang hotel D’Maleo Hotel and Convention Center. Perahu ini cukup besar d’travelers, tuturnya biasa diisi sampai 10 orang. Ongkos perahu ini cukup murah, cuma Rp 200.000 PP per satu perahu itu, sebab kita berempat yaudah jadinya ongkos dibagi deh.

Selama perjalanan ketujuan Pulau Karampuang, disediakan dengan jernihnya air laut, serta sepoi-sepoi angin. Tambah dekati arah, airnya makin jernih, berwarna biru toska, serta memang kelihatannya masih sepi serta belum terlampau dikomersilkan.

Sehabis lebih kurang 20-30 menit, tibalah kami di Pulau Karampuang. Benar saja d’travelers, air di pulau ini jernih sekali, berwarna hijau toska serta kita dapat bebas lihat ikan-ikan yg ada. Masuk pulau ini, kita tidak ditarik ongkos. Yakin tak, waktu kita hadir kesini wisatawannya cuma team kami saja.

Jadi dengan tidak langsung seperti privat island. Wah sungguh-sungguh deh, ini sich memang wisata yg masih jarang-jarang terjamah. Pekerjaan yg dapat dikerjakan di pulau ini yakni berenang, snorkeling atau sekadar santai-santai di warung yg kebetulan pada waktu itu cuma ada 1 warung yg membuka.

Selesai dari Pulau Karampuang, kita menyambung perjalanan ke satu diantara bukit yg dinamakan Mamuju City. Di sini ada Rujaba ialah Rumah Jabatan Bupati Mamuju, yg tempatnya cukup jauh dari pemukiman penduduk. Rujabanya cukup luas, serta ada satu pendopo yg memang bisa dimanfaatkan buat umum. Dimana tempatnya bersisihan dengn bukit tertulis Mamuju City.

Akhir kata, tak afdol rasa-rasanya jikalau sehabis berkunjung singkat di Mamuju kalaupun kita tak jelas apa sich kekuatan ekonomi yg berada di Mamuju. Atau apa sich oleh-oleh yg dapat dibeli buat menyuport perekonomian di Mamuju.

Oleh-oleh unik Mamuju bisa berwujud snack seperti kerupuk yg terbuat dari rumput laut, kacang-kacangan, abon ayam serta abon ikan marlin, dan kenang-kenangan yang lain seperti kain tenun unik Mandar serta sarung sutra unik Sulawesi.

Pada kesempatan lalu, saya pernah juga bertandang ke satu diantara UKM yg berada di perumahan BTN Ampi, di sini dibikin olahan rumput laut, ialah cemilan rumput laut yg rasa-rasanya gurih serta renyah. Harga buat cemilan ini cukup murah kurang lebih Rp 10.000-15.000 per pack (250 gr).

Demikian narasi perjalanan singkat dari saya, mudah-mudahan saya dapat bertandang ke beberapa daerah yg belum pula terlampau terpasang serta bisa share pengalaman pada banyak d’travelers semua. Terima Kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *