Petualangan ke Gunung Dempo di Pagaralam

Mendaki Gunung Dempo di Pagaralam, Sumatera Selatan ialah pengalaman traveling yang menakjubkan. Capek fisik serta mental bakal terbayar dengan panorama luar biasa.

Penulis coba ceritakan pengalaman pertama mendaki gunung dempo yang ada di Pagaralam, Sumatera Selatan. Awal narasi pendakian diawali oleh karena ada berita dari adik sepupu penulis yang ada di Lahat memberikan berita kalau karang taruna dalam tempat tinggalnya bakal membuat pendakian Gunung Dempo yang direncanakan H+4 sesudah Lebaran.

Singkat kata pada H+3 Lebaran pas di hari Sabtu, penulis bersama-sama 11 orang yang lain terdiri dalam 8 orang laki laki serta 3 orang wanita pergi ke Pagaralam memakai kendaraan bermotor. Sesudah perjalanan sampai di daerah Pagaralam, ada 1 wanita yang masuk dengan kami langsung ke arah ke pasar yang berada pada Pagaralam buat beli bekal pada waktu pendakian. Sesudah dari pasar, penulis serta rombongan langsung ke arah ke Kampung IV buat beristirahat menyediakan semuanya buat pendakian esok pagi.

Sesudah sampai di Kampung IV, penulis dan rombongan bermalam dalam suatu rumah. Pada waktu ingin beristirahat, hadir 1 orang buat bermalam bersama-sama kami lantaran tukasnya ia ditinggal oleh rombongannya. Pada larut malam, kami kehadiran 2 orang buat mendaki Gunung Dempo besok harinya. Jadi keseluruhan 14 orang yang bakal mendaki Gunung Dempo.

Hari yang ditunggu-tunggu lantas datang, sebelum melaksanakan pendakian, kami melaksanakan packing lagi beberapa barang yang sudah dikeluarkan pada waktu istirahat tadi malam. Seterusnya kami sarapan pagi di warung sebagai warung cuma satu di Kampung IV. Pada waktu 08.00 pagi, kami mengawali pendakian ke Gunung Dempo dengan semangat serta senang lantaran kebanyakkan kami pendaki pemula yang ingin mengalahkan Gunung Dempo. Dari Kampung IV ke titik pendakian awal memakan banyak waktu seputar sekitar 40 menit yang melalui perkebunan teh yang benar-benar sejuk saat pagi hari.

Sesudah bahagia bergaya di titik pendakian Gunung Dempo lewat Kampung IV, kami menambahkan perjalanan yang rute kenyataannya dimulai dengan titik ini. Arah ciri khas rimba yang naik serta banyak akar-akar pohon yang benar-benar mendukung dalam perjalanan. Sesudah melaksanakan perjalanan sekitar 1 jam, kami lantas sampai di pintu rimba sebagai batas dengan arah pendakian. Di sini pernah beristirahat tidak lama dengan berfoto-foto tidak lama serta berdoa sebelum mengawali pendakian.

Sesudah bergaya serta berdoa, kami lantas menambahkan perjalanan yang trek jalannya cukup kuras tenaga lantaran naik serta ditambah dikit licin lantaran tadi malam wilayah seputar Gunung Dempo diguyur hujan yang cukup deras. Biarpun dikit licin, kami masih tetap semangat buat melaksanakan pendakian ini. Tidak merasa waktu sudah tunjukkan waktu 11.50 WIB, kami lantas datang di shelter 1 sebagai tempat istirahat banyak pendaki sekedar utk meluruskan anggota tubuh atau memasak di sini lantaran tanahnya datar. Kami lantas putuskan buat istirahat di shelter 1 sekalian memasak mie serta teh hangat serta ada yang ambil air buat persediaan sepanjang pendakian.

Sesudah semua rasakan siap, kami lantas menambahkan perjalanan ke arah ke shelter 2 sebagai tempat istirahat yang ke-2 untuk banyak pendaki. Sepanjang perjalanan dari shelter 1 ke shelter 2 mulai merasa lebih sukar dari mulanya lantaran jalannya bertambah naik. Perihal yang tidak diharapkan berlangsung pada penulis. Kala ingin melalui Dinding Almari, kaki kiri penulis rasakan keseleo lantaran salah sandaran kala ingin melalui Dinding Almari. Disana penulis berhenti tidak lama serta dibantu oleh anggota memijit kaki penulis yang kram itu.

Alhamdulillah ada pendaki lain yang dari Palembang mereka pengin turun serta kebetulan mereka bawa krim buat menyingkirkan rasa ngilu serta mereka berikan semua pada kami. Seputar 10 menit penulis berhenti di Dinding Almari, penulis serta salah satunya anggota barusan menambahkan perjalanan lantaran kami berdua sudah ditunggu-tunggu rombongan yang lain di atas. Pada waktu itu penulis ingin rasakan menyerah buat mendaki tapi di perjalanan kami berjumpa rombongan lain yang pengin turun serta ada salah satunya anggotanya punyai kekurangan fisik yang pada waktu itu dituntun buat turun. Sesudah memandang itu, penulis rasakan abang hanya itu mampu mengapa saya tidak dapat!

Sepanjang perjalanan penulis semangat kembali buat melaksanakan pendakian. Seputar waktu 15.30 sore kami lantas datang di shelter 2 yang cuacanya bertambah dingin. Di sini kami cuma beristirahat tidak lama sekalian membuat teh hangat serta kopi. Seputar 40 menit beristirahat disana, kami pernah berdiskusi kecil perihal apa terus menambahkan perjalanan ke pelataran Gunung Dempo serta membangun tenda disana atau berhenti di shelter 2 tapi ketentuan tetap menambahkan perjalanan yang jalannya bertambah sukar.

Sepanjang perjalanan banyak bertemu pendaki lain yang datang dari Palembang, Lahat, Pagaralam serta bahkan juga dari Curup, Bengkulu. Sesudah 1 1/2 jam kami lantas sampai di Cadas atau biasa dikatakan Badas oleh penduduk Pagaralam. Cadas sebagai jalan bebatuan naik serta licin kalau hujan berlangsung. Tidak merasa waktu maghrib lantas datang kami beristirahat tidak lama sekalian cari pendaki lain yang bawa lampu penerangan.

Alhamdulillah bertemu pendaki lain serta kamipun turut masuk sama mereka. Pada waktu 19.00 malam kami datang di Pucuk Dempo tapi tidak berhenti lantaran hari bertambah gelap serta gerimis hujan mulai turun. Sesudah 1/2 jam perjalanan dari top dempo, kami datang di pelataran Gunung Dempo sebagai tempat istirahat yang datar serta benar-benar luas. Salah satunya anggota cari tempat buat menempatkan tenda serta baru 1 tenda yang dipasang hujan lebat lantas datang hingga menempatkan tenda lain kami lantas kebasahan.

Pada waktu hujan berlangsung, kami 6 orang dalam 1 tenda kelaparan serta diantara satu dari mereka berinisiatif buat konsumsi mie yang belum digodog yang ada di tas persedian. Kami lantas ambil 4 buah mie serta share dengan 6 orang. Sesudah hujan dikit mereka, 2 orang ganti ke tenda lainnya hingga penulis di tenda dengan 3 orang yang lain. Penulis juga mulai rasakan kedinginan pada tangan serta kaki yang benar-benar hebat hingga sukar buat tidur. Saat jam 1 dini hari, hujan badai lantas datang hingga tenda juga mulai digenangi air hujan serta lainnya terjaga lalu berusaha untuk menyingkirkan kubangan air yang ada di seputar tenda.

Suara burung mulai berkicauan saat pagi hari membuat kami semua serta lalu membagi 2 kumpulan buat ke arah Top Marapi buat memandang kawah dari Gunung Dempo. Kubu 1 yang terdiri dalam penulis serta sebagian orang melaksanakan pendakian ke arah ke Top Marapi yang memakan banyak waktu normal seputar 30 menit tapi penulis serta lainnya seputar 1 jam. Rasa capek, lemas, serta rasa ingin menyerah pada waktu pendakian itu terbayar semua bakal keindahan alam yang benar-benar menakjubkan disaksikan dari Top Marapi serta warna kawahnya yang cukup indah biarpun tidak cocok yang diharapkan mendapat warna biru atau hijau secara detail tetapi penulis cukup bahagia lantaran kawahnya ada warna biru nya yang bersatu warna abu-abu. Penulis benar-benar bahagia serta berteriak dari Top Marapi lantaran salah satunya mimpi penulis buat sampai pucuk paling tinggi daerah Sumatera Selatan pada akhirnya terwujud. Kamipun menangkap kejadian indah dengan camera DSLR yang menyengaja dibawa lantaran dikhawatirkan battery telephone seluler lainnya kehabisan battery sepanjang perjalanan.

Sesudah bahagia menangkap kisah lalu, kamipun turun kembali lagi pelataran buat melaksanakan persiapan buat kembali turun ke Kampung IV serta berganti-gantian dengan anggota lainnya. Sesudah sampai di pelataran, anggota lainnya ke arah ke Top Marapi serta banyak wanita memasak nasi serta lainnya buat makan siang sebelum turun ke Kampung IV kembali. Sebelum anggota yang lain turun, penulis meluangkan diri bergaya tidak lama di pelataran Gunung Dempo.

Sesudah anggota lainnya sampai kembali lagi pelataran, beberapa anggota mulai melaksanakan packing semua alat yang diperlukan buat kembali di masukan ke tas serta beberapa menjemur perabotan yang basah pada waktu hujan tadi malam. Sesudah makan serta semua sudah masuk kembali ke tas, pada waktu 14.00 kamipun menambahkan perjalanan buat kembali lagi Kampung IV. Kami kembali berhenti tidak lama serta bergaya di top Dempo sebelum melaksanakan perjalanan kembali lagi Kampung IV.

Demikian narasi dari penulis kesempatan ini yang menceritakan pengalaman pendakian Gunung Dempo 3.159 mdpl. Terima kasih sudah menyempatkan diri buat membaca pengalaman pendakian penulis ke Gunung Dempo. Penulis bakal berikan arahan atau input kalau ingin melaksanakan pendakian yang penulis kenali :

1. Sediakan fisik serta mental yang kuat lantaran mendaki Gunung Dempo bukan masalah perihal yang ringan.
2. Sediakan perlengkapan serta obat-obatan yang cukup hingga meminimalkan beberapa hal yang tidak diharapkan berlangsung.
3. Menjaga prilaku serta pengucapan sepanjang pendakian. Kalau memandang sebuah hal yang tidak diharapkan, cukup kita yang mengetahui serta di kisahkan kala telah melaksanakan proses pendakian.
4. Bawa serta kembali sampah jangan tinggalkan sampah apa pun tidak hanya jejak kaki serta kisah lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *