Museum Batik Yogyakarta yang Tak Banyak Orang Tahu

Jalan-jalan ke Yogya tidak komplet rasa-rasanya tiada belanja batik . Namun tahukah kamu di Yogya ada museum batik yang ceritakan banyak terkait batik?

Suatu bangunan simpel dengan tulisan Museum Batik Yogyakarta menyongsong saya (saya ucapkan bangunan simpel lantaran memandang tampilan luar gedung yang jauh tidak sama dengan museum sama dengan di kota lain), seseorang petugas yang masih terbilang muda menyongsong dengan ramah pada bagian penerimaan tamu.

Sehabis berikan keterangan ketentuan serta ticket yang perlu dibayar , petugas yang merangkap jadi pemandu juga mulai membawa masuk museum .

Pada bagian depan yang memiliki fungsi jadi tempat terima tamu ada bangku- kursi, meja petugas serta photo dari pemilik.Museum ini diresmikan pada tanggal 12 Mei 1979 atas prakarsa pasangan suami istri Hadi Nugroho serta Dewi Sukaningsih.

Kedua-duanya datang dari keluarga pengrajin serta pelestari batik yang dengan turun temurun memberikan kesayangan bakal budaya batik pada keluarganya.

Pada kurang lebih tahun 1960 an pabrik tekstil dengan massal menghasilkan tekstil buat bermotif batik lantaran proses yang sangat kencang ketimbang dengan batik catat serta cap. Ini menyebabkan pengrajin batik alami penurunan. Sebagian dari mereka yang berganti karier pada pekerjaan lain.

Di tahun 1970 an batik-batik yang dibuat banyak yang dipotong-potong cuma buat dibikin baju. Nasib batik pada kala itu begitu memprihatinkan. Hadi Nugroho merasakan begitu susah lantaran menurut dia batik adalah satu kesatuan karya seni yang utuh serta tidak setidaknya dipotong-potong.

Dari kesedihan itu serta memandang nilai-nilai baik batik di orang yang kian redup, Hadi Nugroho bersama dengan istri mulai mengelompokkan dan membuat kain-kain serta perlengkapan membatik yang dipunyai keluarganya.

Kesayangan pada batik yang tidak sempat surut memperkuat kehendak kedua-duanya buat mempersembahkan koleksi mereka pada orang luas, dengan membangun Museum batik Yogyakarta. Datangnya Museum batik Yogyakarta diinginkan bisa menumbuhkan kesayangan orang pada batik jadi warisan peadaban baik yang perlu dilestarikan.

Kecuali paham peristiwa museum Batik Yogyakarta, di sini kita dapat juga memandang bermacam jenis perlengkapan bikin batik, beberapa antara lain sudahlah tidak dimanfaatkan sama dengan proses kemplong yakni proses melembutkan kain memanfaatkan palu kayu (waktu saya coba palu kayu itu begitu berat. Sampai-sampai teringat bagaimana harus memukul-mukul kain berulang-kali dengan alat yang demikian berat).

Ada pula canting jegul yang disebut bentuk canting pada masa dulu. Canting ini memanfaatkan benang yang digulung serta diikat sampai-sampai lilin cair bisa meresap pada benang itu, di bagian ujungnya ada cucuk yang terbuat dari tembaga. Sebelum memanfaatkan benang, jegul terbuat dari rambut manusia. Wah, gemilang ya.

Telusuri museum batik sembari memandang serta dengar keterangan dari pemandu benar-benar mengasyikan. Seolah-olah kita dibawa kembali lagi saat kemarin. Waktu proses bikin batik benar-benar memerlukan waktu serta keahlian tertentu. Jadi kian cinta sama batik deh.

Buat kalian yang tengah di Yogyakarta coba sempatkan waktu buat ada ke museum ini dengan ticket masuk Rp 20.000. Pengunjung bakal mendapatkan banyak pengetahuan terkait batik. Selamat berliburan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *