Fenomena Turis Gembel di Bali Diberitakan Media Dunia

Petunjuk pelancong gembel di Bali mengundang perhatian dunia. Imigrasi Bali mengatakan bakal berkirim pelancong sesuai itu langsung ke kedutaannya.

Petunjuk pelancong pura-pura gembel di Bali bermodus memohon belas kasihan sebab kehabisan cost perjalanan. Beberapa kasusnya berbuntut pada kekacauan lalu selanjutnya menggelisahkan warga Bali. Dan, mengganggu kenyamanan pelancong lain.

Istilah lain buat petunjuk pelancong gembel, yaitu ‘Begpackers’, yang punya arti mengemis (memohon belas kasih) buat traveling. Dapat mengemis dalam makna kata sebetulnya, atau juga dapat seperti mengamen, jual photo serta apa pun buat mendapat uang.

Imigrasi Bali kelihatannya udah panas dengan pelancong gembel. Beberapa waktu terakhir, Kabid Intelijen serta Pengusutan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ngurah Rai, Setyo Budiwardoyo angkat pendapat.

“WNA yang tidak punyai duwit atau pura-pura gembel kita kirimkan orang itu ke kedutaannya atau mohon perlindungan ke kedutaannya yang notabene harus membuat perlindungan penduduk negaranya yang di sini banyak,” ujarnya.

“Di kita, condong bila kita tampung harus memberikan makan. Sebetulnya bila biaya kita, saya kurang sreg harus kasih makan ke orang yang bersandiwara. Kami condong lebih memberi surat serta bertelepon ke kedutaannya jika ada penduduk negara Anda yang memberi perlindungan Anda ini saya kirim ke kedutaan,” sambung Setyo.

Punya arti apabila ada pelancong yang gembel serta masih mengemis atau melaksanakan soal yang lain seperti mengamen supaya dapat uang, maka dikembalikan ke kedutaan negaranya. Sesudah itu, tinggal diurus faksi kedutaan bukan oleh Imigrasi Bali.

Dirangkum, Rabu (10/7/2019) beberapa media internasional menyiarkan petunjuk pelancong gembel di Bali. The Sun, media asal Inggris umpamanya membuat artikel dengan judul ‘Bali is so sick of ‘Begpackers’ that it will now report them to their embassy’.

Di kabarnya diterangkan, petunjuk pelancong gembel atau Begpackers di Bali udah terjadi sudah lama. Bali notabenya yakni lokasi kelas dunia. Penerbangan kesana banyak tersedia, layanan wisata seperti penginapan komplet dari harga yang murah hingga yang mahal.

Ditambah lagi, mata uang Rupiah juga masih murah apabila dibanding dengan USD, Euro atau AUD (Australia Dollar). Sebetulnya apabila pintar mengatur uang, harusnya petunjuk turis-turis gembel itu tak berlangsung.

Media yang lain dari Hong Kong, South China Morning Post menulis judul artikel ‘Bali has had enough of begpackers: freeloading travellers to be sent packing’. Menariknya, South China Morning Post malah mempersoalkan apa faksi kedutaan bakal mengelola penduduk negara mereka yang menjadi pelancong gembel?

Buat pelancong yang kehilangan beberapa surat bernilai atau terserang soal (seperti kriminalitas), memang dibantu oleh faksi kedutaan negara asal. Namun bila pelancong yang menentukan style perjalanan Begpackers, tidakkah mereka sendiri yang menentukan jalan itu?

Daily Mail, membuat artikel dengan judul ‘ Bali cracks down on ‘problematic’ Australian backpackers who beg in the street asking locals to pay for their travels’. Realitanya, petunjuk pelancong gembel tidak sekedar berlangsung di Bali.

Thailand pernah juga rasakan soal mirip. Bila ide pemerintah Thailand, mereka bakal menaikkan beberapa syarat dokumen buat masuk ke negaranya berbentuk beberapa uang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *