Bersantai di Danau Hoan Kiem Kota Hanoi Nan Damai

Beberapa hari di satu daerah, bersatu dengan masyarakat ditempat, mengeksplore dengan dalam. Tersebut yang dapat dijalankan saat 4 hari di Vietnam.

Danau Hoan Kiem terdapat di Old Quarter, daerah wisata penting di Hanoi. Jarak tempuhnya kurang lebih 40 menit dari Lapangan terbang Noi Bai. Benar-benar simpel cari hotel di Old Quarter. Hotel di sini rata-rata sempit. Tetapi kualitas bangunannya bagus. Serta yang paling penting yaitu tarifnya termasuk murah.

Jangan bangun siang bila sedang bermalam di kurang lebih Danau Hoan Kiem. Rugi! Bangunlah pagi-pagi, gunakanlah alas kaki yang nyaman, lalu berjalan kakilah telusuri jalanannya yang sempit tetapi rapi.

Pagi hari yaitu waktu yang pas. Tidak hanya hawanya sejuk serta fresh, jalanan lantas masih sepi. Cukup siang dikit, jalanan akan ramai oleh sepeda motor, komplet dengan nada gaduh klaksonnya.

Kelilingi danaunya yang damai. Rasakan keadaan romantisnya waktu danau masih berselimut kabut. Waktu pagi hari, Danau Hoan Kiem dipadati oleh masyarakat ditempat. Rata-rata dari mereka sedang berjogging. Ada juga perkumpulan lanjut usia yang sedang berdansa. Kebetulan pula pagi itu ada populasi penari tradisionil yang sedang berlatih. Cukup, ada tontonan gratis.

Jarang-jarang ada wisatawan yang kelihatan. Kemungkinan banyak wisatawan yang ada kesini lebih sukai nikmati dunia malam sampai bangunnya kesiangan.

Ditengah-tengah danau ada suatu bangunan kecil yang dinamakan Menara Kura-Kura. Pastinya ada legenda dibalik penamaan itu. Di salah satunya segi danau, ada suatu jembatan berwarna merah. Jembatan itu tersambung ke suatu kuil. Kuil Ngoc Son namanya. Pastinya saya merasakan harus menyambanginya. Pengunjung cuma disuruh membayar ticket masuk pada harga yang benar-benar murah.

Di kuil itu beberapa orang Vietnam ada untuk berdoa. Sesaat banyak turis seperti saya, ada untuk bergaya.

Seusai senang melingkari kuil, saya masih ada di kurang lebih Hoan Kiem. Duduk enjoy di cafe tepi danau sekalian nikmati kopi asli Vietnam. Begitu nikmat!

Besok harinya, saya masih berkeliling-keliling danau. Kesibukan ini udah seperti keharusan buat saya saat tinggal di sini. Setelah itu, sebelum pulang ke hotel saya berkunjung ke Pasar Dong Xuan. Terletak gak jauh dari danau. Cuma 10 menit berjalan kaki. Pasar ini kondang untuk tempat cari oleh-oleh. Harga yang ditawarkan di sini lantas termasuk lumrah.

Bukan hanya wisatawan yang belanja di sini, penduduk ditempat juga. Jadi gak butuh tersinggung seandainya waktu kita ajukan pertanyaan suatu terhadap pedagang, tetapi pedagang itu malah melambai-lambaikan tangan sekalian menggelengkan kepala. Itu berarti ia tak dapat berbahasa Inggris sampai gak dapat layani.

Sewaktu pertama-tama terima penampikan dari pedagang pasar, saya sudah sempat tersinggung. Dongkol! Seusai berulangkali alami penampikan, saya lantas jadi biasa. Serta pada akhirnya kekecewaan barusan lesap waktu saya bersua dengan pedagang yang benar-benar ramah. Ia yaitu seseorang lelaki paruh baya berkaki satu.

Tidak hanya ramah, bahasa Inggris serta wawasannya lantas cukup. Dia paham Indonesia serta kenal Jakarta. Ia berikan harga yang murah serta bahkan juga tiada disuruh, berikan discount waktu saya borong dagangannya.

Dalam hari paling akhir saya tinggal di Hanoi, sewaktu sedang duduk enjoy ditepi danau, saya bersua seseorang anak lelaki yang mempesona. Ia berjualan tisu, dan berlain-lainan pernak-pernik.

Bocah itu ada mendekati seseorang wanita masyarakat lokal yang kebetulan duduk di samping saya. Dengan sopan anak itu tawarkan dagangannya.

Mungkin lantaran tak butuh, wanita itu menampik untuk beli. Tetapi ia menyodorkan sebungkus roti terhadap si bocah jadi bentuk simpati. Dengan sopan si bocah menampik.

Saya berkesan, lalu memanggilnya, setelah itu beli sebungkus tisu basah, dan suatu gunting kuku. Harga yang ditawarkannya lantas lumrah. Saya dengan maksud membayar lebih untuk dirinya dengan tak terima uang kembalian. Tetapi dengan santun dia menampik. Menakjubkan!

Buat saya, beginilah traveling yang extraordinary. Kita tak semata-mata datang ke obyek wisata, lalu berfoto-foto. Traveling yang menakjubkan yaitu sewaktu kita dapat merasakan seperti masyarakat ditempat. Kenal dan mengerti budaya serta teknik berpikir mereka. Tentu saja hal demikian gak akan berlangsung tidak ada hubungan yang intensif dengan masyarakat lokal.

Sampai kini negara yang sudah pernah saya singgahi masih hanya terbatas pada daerah Asia Tenggara. Saya pingin pergi ke negeri yang lebih jauh kembali. Jadi, tahun ini, saya punya niat pergi ke Uni Emirat Arab yang mengikat. Khususnya ke Dubai yang aduhai.

Saya pingin kesana lantaran tertarik dengan Palm Islands yang cantik. Saya pingin kesana lalu melepaskan diri terperangah di Burj Khalifa yang mewah. Saya pingin kesana untuk menari tangkas ikuti liukan The Dubai Fountain yang indah. Lalu menunjukkan diri jadi bukan pecundang dengan ikuti Dune Bashing yang menentang.

Serta semestinya bila sangat mungkin, dapat mengobrol akrab dengan masyarakat ditempat, atau mungkin dengan banyak pekerja dari Indonesia yang menetap disana. Bila kemauan ini dapat terjadi, semestinya ini bisa jadi extraordinary travelling yang paling extraordinary buat saya. Mudah-mudahan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *